50 Tahun Hubungan Diplomatik Indonesia-Jepang

July 20, 2008

Hubungan diplomatik antara Indonesia dan Jepang pertama kali dibuka pada tahun 1958 setelah ditandatanganinya Perjanjian Perdamaian Jepang – Republik Indonesia dan Perjanjian Perampasan Perang Jepang – Republik Indonesia. Selama kurun waktu 50 tahun ini, hubungan kerjasama dan persahabatan telah dibuka secara luas di berbagai sektor dengan konteks saling menguntungkan bagi ke dua negara. Pada kunjungan kenegaraan di bulan Nopember 2007, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Perdana Menteri Abe menandatangani pernyataan bersama Republik Indonesia-Jepang tentang kemitraan strategis menuju masa depan yang damai dan sejahtera. Di dalam pernyataan tersebut disebutkan bahwa Tahun Persahabatan Indonesia-Jepang 2008 sebagai tahun peringatan ke-50 merupakan kesempatan yang sangat baik untuk lebih memperkokoh hubungan persahabatan yang telah berlangsung.

Berbagai acara diselenggarakan untuk memperingati tahun persahabatan ini seperti penerbitan perangko bersama Indonesia-Jepang, pertunjukan kesenian dan kebudayaan, temu ilmiah, pemberian beasiswa, promosi tahun persahabatan melalui video, kalendar, dan lain-lain. Perayaan tahun persahabatan di Jepang berupa penyelenggaraan Festival Indonesia dipusatkan di Yoyogi Park, Tokyo tanggal 19-20 Juli 2008 dengan menampilkan kampanye Visit Indonesia 2008, pertunjukkan kesenian, eksebisi dan promosi perusahaan Indonesia dan Jepang serta penjualan aneka ragam makanan Indonesia dan Jepang.


Indonesia dan Jepang memiliki berbagai prestasi kerjasama yang dapat mereka banggakan, termasuk juga berbagai tantangan baru yang harus dihadapi bersama di dalam menyikapi tahun Persahabatan Indonesia-Jepang 2008 oleh kedua negara. Selama ini Jepang telah memberikan teknologi dan investasi terbesar yang diperlukan oleh Indonesia untuk membangun perekonomian Indonesia dan membuka lapangan kerja.

Namun faktanya, dalam kurun waktu 50 tahun persahabatan dan kerjasama kedua negara memberikan kontribusi kemajuan ekonomi yang tidak sepadan perbandingannya. Kondisi ini adalah tantangan besar yang dihadapi tidak saja oleh pemerintah Indonesia, tetapi juga seluruh komponen bangsa di dalam maupun di luar negeri.


Dondo-Yaki (New Year Fire Festival)

January 14, 2008

Acara yang berlangsung tanggal 13 Januari 2008 ini bertajuk New Year International Exchange (Shinnen Kokusai Kouryuu Kai). Bertempat di JICA-Tsukuba, peserta dari empat negara yang terdiri atas 2 orang Indonesia, 2 orang Pakistan, 2 orang Sri Lanka, dan 10 orang Jepang berkumpul dengan 2 agenda pengenalan kebudayaan Jepang.

Tepat pukul sembilan pagi JST rombongan berangkat menuju tujuan pertama (Onnabake Jinja/Onnabake Shrine) untuk pengenalan tentang ajaran Shinto pada saat tahun baru. Selain itu perbincangan juga meluas tentang sejarah, mitos, dan pandangan orang Jepang terhadap agama. Diskusi dan obrolan hangat menjadi penyemangat perjalanan di hari berangin musim dingin (Meccha Samukatta).

Selepas kunjungan dari Onnabake Jinja, perjalanan kami lanjutkan dengan berkeliling dan menikmati keindahan dan keunikan Ryugasaki New Town yang konon dulunya satu pusat perbelanjaan-pun tidak ada. Ketika berkeliling, penulis terkesan dengan moto kota Kenkou Toshi Ryugasaki. Agaknya tidak berlebihan kalo kota ini disebut kota sehat, karena keberadaan fasilitas olahraga sudah cukup memadai. Puas berkeliling kota, rombongan melanjutkan perjalanan ke Matsuba Shougakkou, tempat berlangsungnya acara Dondo Yaki. Sebelum menuju ke lokasi acara, rombongan sempat mampir ke Matsuba Kouminkan yang akan digunakan sebagai tempat makan siang. Sampai di tempat acara, tak ayal penonton sudah meluber di lapangan sekolah dengan membawa kazari mono yang biasanya ditempel di pintu rumah pada saat tahun baru untuk dibakar di lokasi acara. Adapun maksud dari membakar kazari mono ini adalah untuk mengantar dewa kembali ke surga. Dengan harapan mereka mendapatkan kesehatan dan keamanan untuk seluruh anggota keluarga.Selain acara inti, acara ini juga diramaikan dengan pembagian Tonjiru, Onigiri, Jus, Sake Dewa (sake yang diletakkan di dalam bambu sambil di bakar). Dan tentu yang tidak boleh dilewatkan adalah kue Mochi. Setiap orang diberi mochi yang sudah di pasang di bambu untuk di bakar di api Dondo Yaki. Oishikatta!!!

Acara dilanjutkan dengan makan siang di Matsuba Kouminkan diselingi dengan obrolan-obrolan hangat tentang Ramadhan, Islam, Budha, Indonesia, Pakistan, dan tentu obrolan ringan tentang kerinduan para peserta dari Jepang terhadap festival-festiva tradisional seperti ini, karena ada dari mereka baru melakukan hal semacam ini sekali. Maji de??? Selidik punya selidik ternyata hal ini dikarenakan sudah banyaknya budaya tradisional yang mulai banyak ditinggalkan. Zannen desune!!.Obrolan hangat harus terhenti karena waktu pulang telah tiba. Pengalaman yang begitu berkesan. Bercengkrama dengan saudara dari beberapa negara, tukar informasi budaya, hangatnya kebersamaan telah sanggup mengubah dinginnya hari itu menjadi sesuatu yang tidak bisa dengan mudah dilupakan. Mina sama ni Arigatou Gozaimashita..!! (Zinuri)


Kamus Indonesia-Jepang

December 23, 2007

Buat yang mumet cari-cari padanan kata dari bahasa Jepang ke Indonesia atau sebaliknya, mungkin bisa klik alamat website ini.

Lumayan buat nambahin koleksi kamus Indonesia-Jepang yang sudah ada. Makasih untuk Mutoh san yang sudah sharing info ini.

(Luki)


Tameiki

December 18, 2007

Barusan dapat sedikit info dari teman satu lab Nihonjin mengenai “menghela nafas dan membuangnya” Dalam bahasa Inggris disebut sigh, dalam bahasa Jepang disebut tameiki- ため息. (apa istilahnya dalam Bahasa Indonesia ya?) . Kebiasaan itu rupanya tidak ada dalam masyarakat Jepang (pamali), dengan alasan jika kita membuang nafas (bisa karena lelah, cape, atau banyak pikiran), kebahagaiaan yang ada di diri kita akan ikut terbuang. Mungkin, filosofinya janganlah kita mengeluh, merasa lelah dengan hal yang lumayan sulit kita jalani. Sebaliknya hadapilah semua tantangan dengan segenap kemampuan kita dan jangan menyerah! Contoh kecil saja, banyak orang Jepang yang menurut hitungan kita sudah sangat tua, tetapi masih mau bekerja, hanya sebagai cleaning service atau sopir misalnya (memang gajinya sangat jauh jika dibandingkan dengan pekerjaan yang sama di Indonesia). Bagus juga samurai spirit yaa, kalo memang benar filosofinya seperti itu…CMIIW

Ada tambahan info-info kecil lainnya?