
Acara yang berlangsung tanggal 13 Januari 2008 ini bertajuk New Year International Exchange (Shinnen Kokusai Kouryuu Kai). Bertempat di JICA-Tsukuba, peserta dari empat negara yang terdiri atas 2 orang Indonesia, 2 orang Pakistan, 2 orang Sri Lanka, dan 10 orang Jepang berkumpul dengan 2 agenda pengenalan kebudayaan Jepang.
Tepat pukul sembilan pagi JST rombongan berangkat menuju tujuan pertama (Onnabake Jinja/Onnabake Shrine) untuk pengenalan tentang ajaran Shinto pada saat tahun baru. Selain itu perbincangan juga meluas tentang sejarah, mitos, dan pandangan orang Jepang terhadap agama. Diskusi dan obrolan hangat menjadi penyemangat perjalanan di hari berangin musim dingin (Meccha Samukatta).
Selepas kunjungan dari Onnabake Jinja, perjalanan kami lanjutkan dengan berkeliling dan menikmati keindahan dan keunikan Ryugasaki New Town yang konon dulunya satu pusat perbelanjaan-pun tidak ada. Ketika berkeliling, penulis terkesan dengan moto kota Kenkou Toshi Ryugasaki. Agaknya tidak berlebihan kalo kota ini disebut kota sehat, karena keberadaan fasilitas olahraga sudah cukup memadai. Puas berkeliling kota, rombongan melanjutkan perjalanan ke Matsuba Shougakkou, tempat berlangsungnya acara Dondo Yaki. Sebelum menuju ke lokasi acara, rombongan sempat mampir ke Matsuba Kouminkan yang akan digunakan sebagai tempat makan siang. Sampai di tempat acara, tak ayal penonton sudah meluber di lapangan sekolah dengan membawa kazari mono yang biasanya ditempel di pintu rumah pada saat tahun baru untuk dibakar di lokasi acara. Adapun maksud dari membakar kazari mono ini adalah untuk mengantar dewa kembali ke surga. Dengan harapan mereka mendapatkan kesehatan dan keamanan untuk seluruh anggota keluarga.Selain acara inti, acara ini juga diramaikan dengan pembagian Tonjiru, Onigiri, Jus, Sake Dewa (sake yang diletakkan di dalam bambu sambil di bakar). Dan tentu yang tidak boleh dilewatkan adalah kue Mochi. Setiap orang diberi mochi yang sudah di pasang di bambu untuk di bakar di api Dondo Yaki. Oishikatta!!!

Acara dilanjutkan dengan makan siang di Matsuba Kouminkan diselingi dengan obrolan-obrolan hangat tentang Ramadhan, Islam, Budha, Indonesia, Pakistan, dan tentu obrolan ringan tentang kerinduan para peserta dari Jepang terhadap festival-festiva tradisional seperti ini, karena ada dari mereka baru melakukan hal semacam ini sekali. Maji de??? Selidik punya selidik ternyata hal ini dikarenakan sudah banyaknya budaya tradisional yang mulai banyak ditinggalkan. Zannen desune!!.Obrolan hangat harus terhenti karena waktu pulang telah tiba. Pengalaman yang begitu berkesan. Bercengkrama dengan saudara dari beberapa negara, tukar informasi budaya, hangatnya kebersamaan telah sanggup mengubah dinginnya hari itu menjadi sesuatu yang tidak bisa dengan mudah dilupakan. Mina sama ni Arigatou Gozaimashita..!! (Zinuri)





January 14, 2008 at 11:30 am |
Wow.. asyiknya.
January 14, 2008 at 12:35 pm |
pengalaman yang menyenangkan kayanya deh…
January 14, 2008 at 5:18 pm |
kalo di jawa seperti 1 suro gitu laah kali yaa…..
January 14, 2008 at 6:53 pm |
Woooo … sugoiii … menarik sekali. Sayang gak bisa ikut, masih jikennnn niii
March 26, 2008 at 11:13 am |
ehh ada kirin di sebelah gapura.. ngapain zin.. tadinya sempat ku kira tiang penyangga juga tapi kok aneh… btw.. sukses ya bro…